Sabtu, 26 Januari 2013

Cerpen : Doa ku untuk keluarga ku


                       

Doa ku untuk keluarga ku
Aku terlahir didalam keluarga yang serba biasa,tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Aku terlahir sebagai anak pertama dengan keempat adik-adik ku. Ayah ku hanya seorang buruh pabrik dan ibuku hanya seorang pedagang sayuran. Kami sekeluarga  tinggal disebuah rumah berdinding papan yang hampir lapuk.
Tahun itu adalah tahun dimana aku akan mendaftar di SMA, Ayah ku menyuruuh ku mendaftar di SMA pilihan ayahku,SMA berstandar internasional yang sebenarnya aku ragu untuk mendaftar disana karena aku merasa tak sanggup untuk mengikuti proses belajar disana,namun ayahku selalu saja memaksa, dengan hati yang berat aku pergi seorang diri mendaftar di SMA tersebut. Pendaftaranpun selesai,seminggu sebelum pengumuman keluar aku harus memantau nomor ujian ku selama seminggu. Aku terus memantau nilaiku sambil terus berharap agar nomor ujianku berada diurutan paling bawah,namun ternyata sampai hari pengumuman tiba,nomor ujianku tak kunjung turun,tetap pada posisi 40,dan berarti aku resmi menjadi siswa SMA tersebut.
Aku mengabari ayahku tentang hal tersebut,terdengar nada gembira yang dituturkan ayahku lewat telpon tersebut.
            “oh tuhan,haruskah aku menghancurkan kegembiraan ayahku? Ucapku dalam hati.
Tapi inilah pilihan terakhir ku,yang tak mungkin ku tinggalkan.
Sampai pada hari pertama sekolah sebagai siswa berseragam putih abu-abu,aku belum juga ikhlas menjalankan status baruku sebagai siswa SMA berstandar internasional pilihan ayahku. Begitulah setiap harinya,aku menjalani profesi baruku dengan setengah hati tanpa pernah ayahku tahu bahwa sesungguhnya aku tak ingin bersekolah disana
Ketika itu aku memandangi ayahku yang bekerja bermandikan debu. Sungguh hatiku teriris,tak tega aku melihat semua itu. Ingin rasanya aku menggantikan posisi ayah saat itu. Sesudah itu aku harus menjemput ibu di pasar, setelah memarkirkan sepeda motorku, kulihat ibu yang sedang menawarkan barang dagangannya, sambil sesekali menghela napas panjang. Kembali hatku menjerit. Sungguh aku tak bisa berbuat apapun untukmu Ibu. Sambil melangkah mendekati ibu, hatiku masih terus menangis, sampai ibu menyadari keberadaanku.
           


“Eh, siapa temanmu kesini kak?” ucap ibu dengan sedikit terkejut melihat kedatanganku!”
            “ sendirian bu, jawabku”
            “ udah sarapan?makan lah dulu biar ibu pesankan!”
            “tidak bu!ibu saja yang sarapan,kakak sudah sarapan di rumah.”
            “ibu tidak lapar,lagian dagangan ibu belum habis!           
Perkataan ibu yang semakin membuatku merintih dalam hati.
1 jam berlalu, dagangan ibu sudah habis, saat nya pulang.
            Dengan keringat yang bercucuran ibu menenteng barang-barang yang harus dibawa pulang, segera ku dekati ibu dan membantunya membawa barang-barang tersebut.
Setibanya dirumah, melihat ibu dan aku datang adik-adikku bersorak bahagia!
            “bu ada bawa kue ?? Tanya adikku yang keempat.
            “lihat diplastik itu! Jawab ibuku.
            Sambil terus memandangi ibu, aku sedikit malu betapa tidak aku tak bisa melakukan apapun untuk ibu. Tiba-tiba ayahku datang.
            “kak, ambilkan ayah minum, pinta ayah dengan sedikit terbatuk-batuk.
Aku bergegas masuk kedalam rumah dan mengambilkan ayah segelas air putih.
            “ini ayah ! ucapku.

            Ayah meminum  air tersebut dengan wajah yang sangat dahaga. Sungguh aku tak sanggup dengan semua ini. Kenapa harus aku yang mengalami nasib yang seperti ini!. Orang tuaku bersusah payah membanting tulang hanya untuk aku dan adik-adikku, tapi, kenapa aku masih tidak bersungguh-sungguh bersekolah ? itu sama saja aku membunuh orang tuaku ,, sesalku dalam hati.

            Malam harinya, aku tak bisa tidur. Tak sanggup aku membayangkan nasib keluargaku. Tuhan , sungguh aku anak yang durhaka. Ayah dan ibuku telah bersusah payah menyekolahkanku sampai pada sekolah yang berstandar internasional yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kembali aku menyesali perbuatanku tersebut, ditambah lagi dengan perkataan ibu yang membuatku semakin merasa bersalah. Ibu pernah bilang, aku harus bisa jadi dokter, atau paling tidak jadi seorang bidan. Perkataan ibu tersebut semakin membuatku dilema, bahkan sempat down.

            Bagaimana tidak, dengan bersekolah di SMA yang berstandar internasional, aku ragu untuk bisa masuk ke jurusan IPA. Ya, jurusan yang harus ku capai. Jika aku ingin mewujudkan perkataan ibuku, namun dengan saingan yang begitu berat, rasanya aku tak mampu mewujudkan angan ibuku.
            Semester pertama yang kulalui disekolahku, yah hanya rangking 9. Tapi tetap harus bersyukur! Walau hanya rangking 9, ayah dan ibuku tetap bahagia dengan hasil tersebut. Senang rasanya melihat ayah dan ibu tersenyum bahagia!
            Huu..Andai saja setiap detik aku bisa membuat ayah dan ibuku tersenyum,betapa indah hidup yang kurasakan namun kenyataan berkata lain,aku tetap harus berjuang demi ayah dan ibuku.
            Sampai suatu malam yang sepi aku berdoa di kamarku yang beralaskan tikar yang lapuk.
            Tuhan trimakasih buat berkat mu dalam hidupku,trimakasih buat orang tua yang terbaik yang kau pilihkan untukku,trimakasih buat adik-adik yang kau berikan kepada ku. Tuhan malam ini aku berdoa dengan sangat berharap kau mengabulkan doaku, ku mohon berikan panjang umur,kesehatan dan rezeki kepada kedua orang tua ku , iringi setiap langkah ku dan keluarga ,berikan aku dan adik-adikku kepintaran agar tidak tersia-siakan pengorbanan kedua oang tua ku,bantu aku mewujudkan cita-cita ku,ajari aku untuk mencintai sekolah ku yang baru sehingga aku dapat berhasil dalam menuntun ilmu,dan bantu pula aku membuat orang tuaku tersenyum bahagia, begitu juga dengan dosa-dosa yang ku perbuat juga dosa keluarga ku agar kami layak dihadapan-Mu. Trimakasih ya Tuhan,terpujilah Engkau sekarang dan selama-lamanya.
Amiin.
            Doaku mengakhiri malam itu sambil terus berharap dapat membuat orangtua ku tersenyum bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar